Senin, 30 Oktober 2017

Jangan Lupa Ngopi

“Jangan Lupa Ngopi”
oleh : Yoga Dany Damara


Warung kopi untuk saat ini semakin banyak penikmatnya mulai dari kalangan ke atas, menengah, dan ke bawah, ngomongin soal kopi di sekitar rumah saya menjadi pusatnya salah satunya warung kopi waris ya pagi sampai malam penikmat kopi disini juga banyak. Tidak ketinggalan lagi daerah pinka bisa di sebut pinggir kali yang sekarang kali “Ngrowo” namanya. Di jaman sekarang ini nongkrong di warung kopi sebuah kewajiban bagi kaum muda disini, karena bisa ngobrol sama teman-teman dan bisa mencari inspirasi. Tidak ketinggalan lagi dari kota Tulungagung saja  banyak cafe-cafe baru yang masih fresh dan juga mereka menyajikan menu-menu andalan. Menu kopi menjadi salah satu yang kebanyakan selalu ada dan beraneka ragam dari harganya sendiri menyesuaikan. Tidak kopi saja melainkan tempat nongkrong sendiri di desain unik menjadi ajang foto dan sekarang ini ada aplikasi foto yang terpopuler seperti instagram menjadi perhatian banyak orang. Ketika kita sedang di cafe menikmati foto bisa juga selfie dengan teman-teman tinggal menguploadnya di instagram menjadi dokumentasi yang dilihat banyak orang. Semua orang saat ini nyaman sekali menggunakan media sosial yang berdekatan dengan kuliner jadi lebih tahu cafe-cafe baru yang diupload oleh penggunanya. Tidak heran, sekarang android menjadi salah satu media yang sangat berpengaruh dalam gaya hidup anak muda jaman sekarang menjadi sebuah pegangan yang harus kita bawa kemana-mana. Tradisi saat ini senang mengabarkan informasi terkait dalam hal kuliner dan gaya hidup yang hedonis. Masa peralihan sekarang ini menjadi sebuah alasan orang yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000 an adalah generasi muda yang berumur 17-37 pada tahun ini. Menikmati kecanggihan tehnologi yang membuat anak muda jaman sekarang ini lebih kreatif. Bicara dengan rasa kopi itu sangat berbeda-beda dari penikmat itu sendiri masih dengan selera masing-masing. Ada yang memilih kopi pahit ada juga yang memilih kopi manis. Setiap orang merasakan rasa kopi yang khas. Saya pernah ngopi di dekat alun-alun coffe shop Buyut Suro dan ada yang menyodorkan taste gelas kecil untuk diminum, setelah saya minum rasa kopinya pahit dan langsung bertanya “pak bagaimana kita bisa merasakan kopi, kan kopi ada yang pahit dan manis yang paling enak itu kopi yang mana?’’ langsung di jawab dengan ramah kopi yang enak itu masih dengan selera dan setiap biji kopi itu ada pohon pendampingnya misal seperti biji kopi di tanam di dekat pohon duren yang berjarak 1 kg – 2 kg itu yang membuat rasa khas kopi menjadi kopi rasa duren makanya banyak varian kopi yang beraneka rasa dari sinilah saya mulai paham kopi selalu ada pohon pendampingnya yang membuat kopi menjadi beraneka ragam. Dan sekarang ini banyak yang menyediakan kopi di cafe. Tidak hanya di cafe sekarang di warung apalagi sangat berdekatan dengan kita. Di warung- warung saat ini juga ada fasilitas Wi-Fi tidak kalah dengan cafe-cafe saat ini Lebih nyaman bertahan lama hehehehe tergantung dari kenyamanan masing-masing. Membuat para pelanggan betah berjam-jam menikmati kopi dengan menggunakan wifi biasanya streaming youtube,game, chat mantan dan download film.  Ya sangat nyaman sekali dengan harga terjangkau dan berjam-jam menikmati fasilitas Wi-Fi ada juga warung yang melarang membawa laptop menggunakan Wi-Fi disini tidak diperbolehkan biasanya menjadi lemot karena kebanyakan menggunakan handphone kalau laptop lebih sering di Wi-Fi Telkom yang pusat jaringannya lebih bagus. Biasanya anak muda sekarang lebih suka di warung-warung karena itu mereka sampai-sampai lupa waktu lebih memilih gadget ketimbang kehidupan kenyataannya hehehe. Salah satu penyebabnya gaya hidup sosialita  saat ini semakin marak yang terpenting kita tahu batasan tidak terlalu berlebihan. banyak kasus – kasus yang saat ini beredar seperti ujaran kebencian, berita hoax dimana-mana. Boleh ngopi sambil Wi-Fi an jangan lupa menggunakan sosial media dengan baik.  Sebisa mungkin kita mawas diri dengan era kecanggihan saat ini dulu kita menyeduh kopi dengan alam yang alami selembut hempasan angin nikmat rasanya dan sekarang kita lebih modern dengan fasilitas Wi-Fi menikmatinya semua orang mempunyai cara masing-masing menikmati kopi. Saya sering ngopi sana kemari mencari inspirasi kadang bersama-sama teman sepermainan maupun teman kuliah. Sering menghabiskan waktu sepulang kuliah ngopi di dekat kampus dengan menu andalan yaitu godday cappucino ditemani gorengan lalu nasi bungkus satu kata “Enak Tenan”.  Kesederhanaan menjadi nilai lebih selebihnya kita bisa mendapat teman baru, wawasan baru, dan inspirasi baru. Apa bedanya ngopi di cafe sama di warung ? pertanyaan ini saya jelaskan dengan selera kenyamanan yang berbeda. Kalau di cafe yang disukai adalah tempatnya yang menarik untuk menjadi background foto ketika kita menjadi pelanggan atau kalau bisa membuat story di instagram untuk menginformasikan kalau disini bagus dan lebih nyaman dengan fasilitas kalau indor seperti AC, Wi-Fi dan kalau outdor biasanya banyak tempat duduk yang bisa menikmati luar sana. Saya lebih memilih ngopi di warung karena lebih nyaman saja karena disini rata-rata semua kalangan menikmati kopi. Biasanya kalau mau ke warung “ayo ngopi”  beberapa orang pesan di warung bisa berubah menjadi es teh, teh hangat atau minuman kemasan lainnya.jadi Disini tidak dianjurkan untuk memesan kopi bisa memesan menu lainnya lebih nyaman kesederhanaan selebihnya ngobrol berjam-jam tiada henti sampai-sampai lupa waktu. Seperti kebanyakan anak kuliahan setelah pulang kuliah atau sebelum kuliah selalu ngopi disini menjadi sebuah tradisi yang melekat karena warung kopi memiliki cerita saat berkumpul dengan teman-teman, tempat berdiskusi, tempat curhat, tempat melepas penat dan kopi selalu menerima apa adanya oleh penikmat. Di Tulungagung sendiri terkenal dengan kopinya tak jarang setiap malam warung kopi yang ada di tulungagung yang masih buka sampai larut malam Dari situ pelanggan kalau di warung kopi bisa berjam-jam karena ada fasilitas Wi-Fi semisal kita ngopi dari pagi sampai larut malam bisa jadi terserah pelanggan mau pulang jam berapa kalau di cafe ada jam tutupnya dikarenakan “close order” dari bahan-bahan di dapur habis atau pelanggan yang sudah memenuhi kursi akhirnya penuh tidak ada tempat lagi dan bisa juga jam dari cafe sudah punya waktu sendiri untuk tutup. Budaya ngopi di kota Tulungagung ini menjadi sebuah lahan wirausaha kreatif kita bisa lihat di daerah sepanjang pinka (pingir kali) yang pertama kali adalah warung sor trembesi dan sekarang lebih banyak lagi yang membuka warung kopi di sepanjang kali ketika malam telah tiba pinka menjadi andalan nongkrongnya kawula muda disini dari kalangan tua, muda dan anak-anak saling berbaur. Tidak ketinggalan lagi sepanjang kali pinka di sediakan tempat duduk biasanya di hari minggu buat jogging jalan-jalan pagi disini udaranya sejuk dan segar. pagi hari menjadi pemandangan warung kopi yang tutup di tengah-tengah kesejukan yang bertemu dengan kesegaran matahari. Orang-orang ketika hari minggu atau hari libur untuk olahraga pagi biasanya untuk jogging sendiri di alun-alun, lapangan Rejo Agung, gor lembu peteng dan pinka. Khususnya di pinka sangat nyaman kita bisa melihat pemandangan sungai yang mengalir dan warung-warung kopi yang berjejeran dan tempat duduk untuk istirahat sejenak. Warung kopi disini banyak sekali tak heran kopi hitam, kopi hijau dan kopi kemasan masih menjadi andalan. Ketika malam hari kendaraan bermotor wara-wiri untuk mencari tempat ngopi warung – warung disini ketika malam banyak yang membuka kiosnya di deretan kanan jalan dan kiri jalan. Sangat ramai sekali disini kalau saya sendiri ngopinya selalu berpindah pindah kadang di pusat kota , di dekat kampus atau  di pinka. Pinka sendiri menurut saya sangat nyaman kenapa? Karena disini lebih sejuk karena dekat sungai bisa melihat pemandangan ikan yang meloncat-loncat di tengah aliran sungai yang mengalir hehehehehe. Saya sendiri kalau ngopi nomaden aja (berpindah-pindah) agar tidak jenuh dengan tempat yang sama terpenting warung dan cafe di Tulungagung  sangat enak sekali semua mempunyai ciri khas rasa masing-masing, selera menjadi yang diunggulkan setiap penikmat dan kenyamanannya.  Wirausaha di jaman sekarang ini masyarakat lebih kreatif membuka warung atau cafe dan unik-unik terkesan modern tapi sederhana. Kopi berperan penting untuk menyambung komunikasi antar sesama kita bisa merasakan ketika kita berkomunikasi dengan bertatap muka tanpa secangkir kopi terasa hampa maka dari itulah kopi diciptakan menjadi tahan lama. Kopi juga ada khasiatnya untuk kesehatan meningkatkan stamina, mencegah kanker, menjaga kesehatan mulut dan kopi meningkatkan metabolisme tubuh kita ketahui para pekerja kantor dan pekerja berat sering  minum kopi agar meningkatkan kinerja dan performa. Seperti saat ini saya yang sedang kuliah ketika mengerjakan tugas selalu ada kopi yang menemani ibarat seperti teman santai dimanapun selalu ada kopi. Pada akhirnya kopi menjadi salah satu minuman favorit  setiap orang sangat dekat dengan kopi tanpa kopi kehidupan menjadi hampa ciehh puitis ya hehehe. Kopi sumber inspirasi memang takarannya sangat kecil tapi dapat membantu segala hal. Sangat banyak aneka rasa dari kopi selain kopi bubuk ada juga kopi dalam kemasan seperti rasa cappucino menurut saya sendiri sangat relatif biasanya yang siap saji bisa dibawa kemana-mana dalam perjalanan jauh kita bisa membawa termos dan gula sebagai tambahannya untuk membuat kopi sendiri lebih praktis dan mudah di minum. Saya lebih suka yang kopi jahe sensasinya  rasa pedas yang samar-samar enak sekali. Kawula muda saat ini lebih tertarik dengan pekerjaan barista menyajikan kopi dengan alat yang lebih modern rasa juga berkualitas tidak kalah dengan warung –warung kopi  kesederhanaan tempat dan rasa kopi juga enak. Tinggal kita sang penikmat mengetahui keadaan yang pas menikmati kopi bagaimana cara menikmati kopi. Jaman sekarang ini kopi menjadi gaya hidup semua mengenalkan rasa kopi dari masing-masing daerah ada yang di eksport atau maunpun di import dalam negeri menjadi rasa khas keaslian indonesia. Dan juga kita bisa mengenalkan kopi dengan berfoto bersama kopi.  latte art paling banyak diminati  sepertinya agak asing nama ini ya latte art kopi yang diatasnya seni melukis di atasnya.  Sering di foto pada kawula anak muda jaman sekarang ini berbicara seni melukis ternyata bisa di permukaan kopi menjadi sebuah ketertarikan bagi yang melihatnya menjadi bahan foto dan bisa di upload di instagram. Dengan banyaknya warung kopi dan cafe bertumbuhnya wirausaha yang bermanfaat mengenalkan rasa kopi daerah masing-masing selalu menunjukkan cinta indonesia bahwa di indonesia ini banyak sekali kopi-kopi yang berkualitas ataupun yang masih terpendam belum di ketahui sebagai generasi penerus bangsa setidaknya tidak hanya kita menyajikan dan penikmat kopi saja. Bisa menjadikan kopi seperti edukasi dari asal sejarah kopi, proses pembuatan kopi, daerah biji kopi yang di budidayakan, kendala para petani kopi untuk membuat kopi sangat penting kita ketahui menjadi lebih tahu tidak hanya kita menikmati, namun kita lebih tahu apa kopi sebenarnya. Budidaya ke depan yang paling penting di tengah era modern ini jangan sampai kita lupa bahwa pembuatan kopi dengan cara tradisional dari nenek moyang kita yang waktu dulu masih dengan manual menggunakan tumbuk dengan kayu besar terus ditumbuk menjadi halus.  Jaman dahulu petani-petani kopi dengan alat seadanya  beda dengan jaman sekarang menggunakan alat modern dan lebih cepat proses pembuatannya. Hiburan indonesia juga mengangkat tema kopi yaitu film “Filosofi Kopi” menceritakan tentang pemahaman kopi cerita yang dramatis penuh historis dengan aktor- aktor terkenal memerankan peran yang sesuai dengan karakter  masing-masing   mengenalkan kopi sampai cara pembuatannya seperti itulah  kopi merupakan sejarah yang tak bisa kita lupakan terus tahan lama untuk generasi kedepannya. Banyak yang antusias filosofi kopi yang ditayangkan di bioskop-bioskop khususnya anak muda lebih tertarik lagi dengan kopi yang di kemas dengan film lebih bisa menghargai karya anak bangsa apalagi pembuatan kopi original di indonesia semestinya kita bangga sebagai anak indonesia kualitas kopi kita tidak kalah dengan kualitas luar dan cintai dalam negeri. Hal – hal kedepannya kita tidak tahu bahwa kopi dengan modernnya alat-alat yang canggih yang banyak dinimati atau dengan tradisionalnya yang pasti tekhnologi saat ini berkembang pesat buat para pemuda-pemuda saat ini yang sedang menikmati kopi jangan lupakan sejarah kopi di indonesia menjadi aset penting yang terus dibudidayakan agar generasi pemuda tetap ingat dengan nenek moyang kita yang dulunya memakai alat sederhana dengan kualitas rasa yang alami dan enak ketika kita menyeduh kopi. daerah tulungagung sendiri yang terkenal dengan kopi hijaunya yang terletak dekat rumah saya sangat nikmat sekali rata-rata kopi hijau di tulungagung stoknya merata sampai-sampai setiap warung punya kopi hijau. Rata-rata masyarakat tulungagung kalau ngopi pada waktu malam hari ramainya membludak disebabkan lebih nyaman malam hari ketimbang siang hari. Kehidupan malam ibarat kekelawar pada malam hari yang aktif di malam hari kebanyakan begadang keasyikan ngobrol dengan teman sepermainan. Itulah keistimewaan ngopi mempererat silahturahmi antar sesama agar jalinan silahturahmi tidak terputus begitu saja. Kata-kata ngopi menjadi awalan ketertarikan orang untuk mengajak  orang yang kita kenal saya lihat bahasa yang sederhana yang digunakan. “ayo ngopi” sangat simple dan kebanyakan orang menggunakan kata-kata itu yang lebih akrab ketika kita mendengarkan dan Jangan lupa ngopi untuk menjalin keakraban bersama.

Ketika Usia Tua Tak Menghalangiku Untuk Bekerja


Ketika Usia Tua Tak Menghalangiku Untuk Bekerja

Oleh : Nadila Anis Kusumawati


 
Pak Abdul, masih semangat menjadi tukang tambal ban diusianya
 yang senja.
Hidup adalah suatu pilihan. Begitu juga halnya dengan mimpi, semua orang bebas berkeinginan apapun. Akan tetapi, suatu mimpi tentunya akan terwujud dengan adanya usaha yang serius untuk menggapainya. Hidup tanpa mimpi bagaikan sebuah perjalanan tanpa diiringi dengan adanya tujuan. Langkah niatnya yang selalu diiringi dengan doa dan secercah harapan-harapan tentang keindahan kehidupan ini. Laki-laki tua  dengan mata yang sayu tidak menghalanginya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan berdirinya yang tidak tegap, tidak membuatnya lelah dalam melakukan pekerjaan yang telah ditekuninya selama ini. Pak Abdul (91), begitulah kakek tua renta ini biasa disapa oleh kalangan warga setempat. Pria dengan kelahiran 91 tahun silam itu yang memiliki nama lengkap Abdul Kadir, yang merupakan seorang ayah dari tujuh orang anak dari hasil  pernikahannya dengan istrinya yang sudah lama meninggal itu dan memiliki 24 orang cucu. Kehidupannya pun begitu berubah setelah istri yang dicintainya pergi meninggalkannya. Layaknya orang tua yang seharusnya duduk manis beristirahat dirumah namun hal ini berputar balik dengan keadaan yang di alamai Pak Abdul. Berbeda dengan seorang laki-laki lansia pada umumnya, di usianya yang sudah menginjak satu abad ini, Pak Abdul masih rajin bekerja tanpa mengeluh dengan keadaan yang sedang dihadapinya. Usia tua yang dipangkunya tidak menjadikannya sebagai seorang yang lemah untuk bekerja. Tidak hanya itu, dia pun tidak tanggung-tanggung menekuni pekerjaan sebagai seorang tukang tambal ban.
Dengan fisik yang sudah mulai menurun pak Abdul dengan semangatnya yang tinggi selalu berusaha untuk bekerja keras. Pekerjaan sebagai tukang tambal ini sudah dua puluh lima tahun ditekuni oleh Pak Abdul. Karena setelah  istrinya meninggal, mau tidak mau dia harus melanjutkan hidupnya bersama dengan ke tujuh anak-anaknya. Awal pada tahun 1992 dia berusaha untuk menyambung hidupnya dengan dukungan anak-anaknya  dengan membangun sebuah usaha bengkel kecil yang berada di daerah Bago Kecamatan Kedungwaru Tulungagung, disana Pak Abdul  memulai kehidupannya lagi setelah ditinggal meninggal oleh istrinya. Selama dua puluh lima tahun itu, dengan senang hati dijalaninya sebagai seorang tukang tambal ban yang dikerjakan olehnya di depan halaman rumah yang sederhana untuk berteduh sehari-hari. Bengkel kecil nan mungil itu dijadikannya tempat untuk bersandar sehari-hari sembari  menghabiskan waktu tuanya dengan menekuni pekerjaannya sebagai seorang tambal ban. Ketika matahari mulai menunjukan dirinya dan jarum jam menunjukkan pukul enam pagi, dengan berjalannya yang tertatih-tatih dia pun membuka satu per satu balok kayu itu, yang dijadikannya sebagai penutup bengkel kecil kesayangannya itu. Senja pun mulai menutupi matahari,dirasa hari sudah mulai larut akan malam pukul lima sore pak Abdul pun menutup bengkelnya.

Selain itu karena  dia  juga terpaksa harus melanjutkan usaha ini sendirian dan juga dengan keadaannya yang sudah tua, terkadang jikalau merasa capek Pak Abdul pun langsung menutup bengkelnya meskipun itu sebelum menunjukkan pukul jam lima sore. Dia  bekerja di bengkel itu seorang diri saja karena ketujuh anaknya semua sudah menikah dan beberapa dari lainnya juga melanjutkan bekerja di luar kota untuk mengubah nasib kehidupan keluarga pak Abdul. Akan tetapi terkadang beberapa anaknya yang masih tinggal didekat daerah tempat bertinggalnya Pak Abdul terkadang mereka masih  ada yang iba terhadap kehidupan seorang Ayahnya yang dulu berjuan untuk kehidupan anak-anaknya dan kemudian sedikit membantu dan merawatnya hingga cucu dari anak ragilnya yang biasanya menemani pak Abdul bekerja di bengkel mungil itu. Cucunya yang selalu menghibur dan membuat pak Abdul tidak merasa letih dengan apa yang sedang dijalaninya saat ini. 

Hidup ini akan selalu terus berjalan, tanpa seseorang itu menunggu. Hasil yang diperoleh tergantung bagaimana kita mendapatkannya. Berkat doa yang selalu ia panjatkan setiap harinya, usaha bengkel kecil tambal ban yang sudah ia geluti selama puluhan tahun ini pun tidak pernah sepi akan pelanggannya. Pekerjaan yang sudah digelutinya selama puluhan tahun itu, sekarang sangatlah disyukuri dengan benar olehnya. Kehidupan yang  sedikit berkecukupan, tak membuat pak Abdul mengeluh atas apa yang dia dapatkan yang berprofesi sebagai tukang tambal ban di bengkel kecil yang dibangunnya itu. Keinginan yang keras demi melihat anak-anaknya mendapat kesuksesan yang layak dan mendapat sebuah pekerjaan adalah harapan besar untuk mewujudkan harapannya yang mulia itu. Perjuangan seorang Pak Abdul ini sungguh tidak sia-sia karena beberapa dari banyak anaknya sudah menjadi seorang yang sukses.
 Meskipun hanya menjadi tukang tambal ban dengan hasil yang pas-pasan tak membuatnya lelah untuk selalu mesyukuri apa yang diperoleh dari kerja kerasnya. Hasil curi payah Pak Abdul kini telah dibuktikan dengan keberhasil membukakan masa depan yang amat gemilang untuk anak-anaknya. Tak  dipungkiri, dari salah satu anaknya sudah menjadi seorang kepala pada sebuah perusahaan besar di Jakarta. Meskipun begitu, di usia nya yang sudah hampir satu abad ini ia tak pernah meninggalkan ataupun memiliki niatan untuk berhenti menjadi tukang tambal ban. Sebenarnya bisa saja Pak Abdul berhenti jadi tukang tambal ban karena beberapa anak Pak Abdul mampu untuk  membantu keuangan untuk kebutuhan sehari-harinya. Namun hal itu tak dilakukannya, baginya jika ia tidak bekerja akan membuatnya malah menjadi sakit.
Menjadi tukang tambal ban sudah menjadi bagian dari hidupnya dia menekuni menjadi seorang tambal ban sebagai sebuah olahraga yang harus dilakukannya setiap hari agar seluruh tubuhnya tidak terasa sakit.  Pak Abdul juga berkata bahwa kalau tidak bekerja dan hanya diam di rumah saja dia takut malah menjadi sakit-sakitan karena kurang gerak. Memang benar, walau bekerja dari pagi hingga sore serta dengan tangan jadi kotor dan dipenuh oli-oli, namun Pak Abdul mengaku malah jarang sakit-sakitan. Dan selama saya masih kuat ya saya lakoni semua pekerjaan ini dengan senang hati ungkapan dari Pak Abdul dengan sembari tersenyum. Terkadang jika sehari saja ia tidak membuka lapak tambal bannya, ia akan merasa sangat berdosa karena telah membuat pelanggannya merasa kecewa. Orang-orang yang sering datang ke bengkelnya jika terjadi kesalahan pada ban motornya mereka selalu pergi ke bengkel pak Abdul sekali pun hanya untuk memompa ban saja. Pernah suatu ketika, lapak tambal ban Pak Abdul ini ramai dengan pelanggan yang ingin menambal ban atau hanya sekedar memompa ban saja, pak Abdul pun tak ingin membuat semua pelanggannya merasa dikecewakan karena kekuatannya yang sudah mulai sedikit berkurang karena di usia nya yang sangat tua ini. Pak Abdul membutuhkan waktu yang amat lama untuk melakukan menambalan ban pada setiap sepedah motor. Dengan hati yang ikhlas dan dengan senyuman kecilnya, akhirnya pak Abdul memberikan kebebasan untuk pelanggannya agar mencari tukang tambal ban lain jika kalau mereka dalam keadaan tergesa-gesa namun, jika mereka sudi untuk menuggu mengantri lama pak Abdul sangat tidak keberatan asalkan mereka tidak kecewa dengan pelayanan yang diberikannya.
Tangan mungilnya yang sudah keriput tak dijadikannya alasan untuk putus asa dalam menekuni pekerjaannya.  Kekuatan Pak Abdul ini boleh dikatakan sedikit berkurang karena faktor usianya yang hamper menginjak satu abad ini, namun kemahiran dan keahliannya dalam melakukan pekerjaannya sebagai tukang tambal ban tidak bisa diragukan lagi. Hasil dari menekuni berpuluh tahun lamanya menjadi tukang tambal ban yang menjadikannya mahir dalam melakukan pekerjaannya ini. Tangan keriputnya juga begitu terampil mengeluarkan ban dalam sepedah motor kemudian menambalkan ban motor pelanggangnya yang bocor dengan matanya yang sudah sayu membuatnya harus teleti sedemikian mungkin agar hasilnya tidak mengecewakan pelanggannya. Hasil pekerjaannya pun sangat rapi dan tidak sedikit pelanggan yang sangat puas atas hasil kerja pak Abdul walaupun banyak kekurangan yang masih di bawa olehnya. Meskipun begitu sungguh ia telah membuka pintu rezeki untuk orang orang yang seprofesi dengan dirinya. Jika pelangganya tergesa-gesa untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu pak Abdul memintanya untuk mencari tukang tambal ban yang lain saja karena dengan tangan keriputnya dan jalannya yang bersayak-sayak memungkikan untuk membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan pekerjaannya.
Walau usia yang sudah senja dia masih semangat bekerja pak abdul tidak mau merepotkan anaknya karena beliau masih merasa mampu untuk bekerja. Kaki tuanya dengan tangan keriputnya tidak menghalanginya untuk bekerja dengan sekuat tenaga yang dimilikinya. Hanya sisa-sisa rasa lelah yang ada tergambar di raut wajah keriputnya Pak Abdul. Sebungkus nasi, segels air yang sederhana ini begitu lahap dia menghabiskan makan siangnya. Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah terlihat perasaan sedih. Senyum ramah dan wajah riang selalu di perlihatkan kepada semua orang termasuk pelanggan yang setiap kali sering menambal ban di bengkel kecil miliknya. Tak pernah dia meminta belaskasihan kepada orang lain. Dia selalu menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah dan tidak pantas dilakukan oleh mereka. Namun baginya apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.
Hari-harinya dia jalani dengan penuh semangat. Tak pernah dia mengeluh apalagi berputus asa. Ya beginilah sekilas sosok pak Abdul yang sehari – harinya bekerja sebagai tukang tambal ban di bengkel kecilnya. Pak Abdul rela bekerja sebagai tukang tambal ban demi mencukupi semua kebutuhan kehidupannya. Mulai dari makanan yang dimakan setiap harinya, biaya untuk beli pakaian, dan lain-lain, hampir semuanya ditanggung oleh dirinya sendiri . Walaupun penghasilan Pak Abdul tiap harinya tidak seberapa dan tidak menentu. Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, tenaga yang sudah tidak seperti dulu lagi, dan tubuh yang renta namun dia tetap dengan semangat menjalani pekerjaannya sebagai tukang tambal ban di halaman rumahnya. Pak Abdul bekerja mulai dari pukul 06.00 sampai 17.00. Pak Abdul memberi patokan upah sebesar Rp.10.000 setiap satu ban pada saat menambal ban motor pelangganya. “ya gak tentu,dalam sehari kadang-kadang dapat 30ribu,” uajarnya kepada kami ketika di tanyai di sela-sela kesibukannya sebagai tukang tambal ban (29/10).
Walaupun pekerjaannya tidak sebanding dengan upah yang diterimanya namun Pak Abdul ikhlas menjalani pekerjaannya tersebut. Sedikit demi sedikit uang yang didapat dari bekerja dikumpulkannya. Dari uang itulah pak Abdul dapat menitih keberhasilan dari apa yang diharapkannya selama ini. Kesadaran terhadap pentingnya sebuah perubahan kehidupan untuk anak-anaknya pak abdul banting tulang untuk mencukupi kebutuhan ketujuh anaknya yang dirasakannya memang sangat berat. Namun, Laki-laki yang memiliki usia sesenja itu  tidak pernah patah semangat. Banyak orang yang mencibir keinginan kerasnya untuk mengubah nasib anak-anaknya. Namun dengan penghasilan yang tidak seberapa dari pekerjaannya sebagai tukang tambal ban itu, Pak Abdul pun masih mampu menyekolahkan anaknya hingga menjadi anak yang sukses. Begitulah  harapan besar pak Abdul kepada anaknya tersebut agar bisa menjadi orang sukses dan bisa merubah nasib di kehidup keluarganya.
Pak Abdul yang merupakan sosok yang menginspirasi banyak orang dengan usianya yang sudah tua dengan kekurangan fisik yang ada dalam dirinya tak di jadikannya itu sebuah alasan untuk malas dalam menjalani kehidupan yang begitu diinginkan keindahannya. Sosok yang tidak pernah pantang menyerah dalam menitih kehidupan yang begitu keras ini, sebuah niat yang tulus ikhlas yang harus diimbangi dengan usaha yang besar pula agar niat yang kita harapakan tidak sia-sia. Dalam melihat keadaan yang dapat dikatakan dirasa kurang mampu ini pak Abdul memiliki harapan yang begitu kuat dalam hatinya yang menekankan agar suatu saat melihat anak-anaknya tidak bernasib sama dengan dia, disini dapat kita lihat betapa besarnya sebuah pengorbanan dari seorang bapak kepada anak-anaknya.
Walaupun usianya yang semakin tahun semakin senja tidaklah menjadi halangan pak Abdul untuk terus bekerja dengan ikhlas sabar dan tekun dalam melakukan sesuatu. Walaupun sejatinya tidak berdampak besar untuk kita, selagi masih dapat untuk berbagi dan saling membantu meringankan beban saudara kita maka harus melakukannya dengan kekuatan semampu kita. Karena janganlah menghitung seberapa lama kita hidup di dunia namun lihatlah seberapa banyak kita bermanfaat untuk prang lain. Kesulitan yang dialami bukan tidak  ada. Dibalikan segala kesulitan yang ada, kesuksesan telah menunggu dari sebuah perjuangan besar  yang mampu mewujudkan harapan pak Abdul. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita senantiasa berusaha, berkorban, dan memberikan perhatian serta kasih sayang terhadap keluarga sehingga hidup ini akan terasa lebih indah dan lebih bermakna.


Bekerja Untuk Membantu bukan Untuk Melanggar



Bekerja Untuk Membantu bukan Untuk Melanggar
Oleh: Lismawati 


 
            Terik matahari yang menyengat kulit dengan panasnya di kawasan Tulungagung,  seorang pria dengan berseragam celana hitam, topi hitam, kemeja putih dengan dibalut rompi petugas polisi justru disibukkan dengan tugasnya mengatur parkiran kendaraan. Nampak wajah yang begitu bersahaja menyapa para pengendara kendaraan bermotor maupun mobil yang hendak parkir di lahan parkiran Kampus.
            Hidup adalah suatu pilihan. Begitu juga halnya dengan mimpi, semua orang bebas berkeinginan apapun. Akan tetapi, suatu mimpi tentunya akan terwujud dengan adanya usaha yang serius untuk menggapainya. Hidup tanpa mimpi bagaikan perjalanan tanpa tujuan.
            Pria Kelahiran 25 tahun silam itu bernama lengkap Adi Saputra,merupakan pria yang masih lajang, ia telah bertugas sebagai security keamanan Kampus sejak 1 tahun yang lalu. “Saya bekerja sebagai Satpam untuk keamanan di sini sekitar 1 tahun yang lalu, setelah resign dari pekerjaan sebelunya, tugas saya di sini sih bukan hanya   sebagai Keamanan Kendaraan Kampus, selain itu juga menjaga ketertiban yang ada di Kampus Khususnya parkiran. Kadang saya juga membantu Warga maupun Mahasiswa untuk menyebrag jalan saat saya bertugas di lalu lintas” ucapnya sambil tersenyum.
            Di sekitar kawasan Kampus sendiri area parkir begitu nampak dan sangat mudah ditemui, dari kiri kanan wilayah Kampus hingga di sekitar pintu belakang Kampus. Dengan kondisi Kampus IAIN Tulungagung yang memiliki cukup banyak Mahasiswa yang meningkat tiap tahunnya sehingga membuka peluang besar bagi bagi warga sekitar, karena memunculkan “lahan Kerja” bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan tetap dengan jangka kerja panjang seperti halnya Pak Adi Saputra. Keramaian parkiran di sekitar Kampus memang tidak terbantahkan lagi, dengan kondisi kawasan Kampus yang begitu padat dengan banyaknya parkiran, menjadikan suatu pekerjaan ritinitas kegiatan sehari-hari bagi Security Keamanan Kampus. Menurut Pak Adi Saputra, jam kerja sip-sipan dan waktu kerja 8 jam perhari. Waktu kerja dari jam 6  Pagi sampai 2 Siang, kemudian jam 2 Siang sampai 10 Malam dan yang sip Malam dari jam 10 hingga 6 Pagi. Dengan waktu kerja bergantian tiap harinya, dari sip Pagi besoknya sip Siang hingga besoknya lagi sip Malam. Kemeja putih yang berbalut Rompi yang berwarna hijau, rompi yang dipakai pada saat bertugas yang menjadi ciri khas tersendiri, rompi tersebut menjadi seragam sebagai petugas keamanan dan tata tertib Lalu lintas.
Sebelum bekerja di Kampus IAIN Tulungagung sebagai Satpamuntuk Keamanan Kampus, Pak Adi Saputra pernah bekerja di FIF, yaitu bagian untuk pembayaran sepeda motor baru (kredit).Pekerjaannya berjalan kurang lebih 2 tahun dan kemudian melamar pekerjaan di Kampus sebagai Satpam.Pada saat diterima di Kampus IAIN Tulungagung sebagai Satpam keamanan, kemudian  langsungresign dari tempat bekerja FIF. Memutuskan untuk berpindah profesi, Pak Adi Saputra bukan hanya sekedar karena keinginan yang memang ingin pindah pekerjaan akan tetapi memiliki alasan, dimana alasan untuk mengambil pekerjaan di Kampus sebagai Satpam di IAIN Tulungagung yaitu dari sisi  Kesejahteraannya sehingga ada kenyamanan dalam melaksanakan sebuah profesi baru. “Dimana kesejahteraannya dalam pekerjaan keluarga seperti antara pegawai itu  kesejahteraannya baik, ada kedekatan yang membuat kenyamanan itu hadir sehingga mempengaruhi dalam pekerjaan merasa nyaman dan pastilah Pekerjaan juga terasa menyenangkan, walaupun dengan ketertibanyang harus dipatuhi dan dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah ditugaskan berbeda dengan tempat bekerja lainnya. Kemudian dalam hal jangka waktu, di Kampus IAIN Tulungagung jangka waktunya terbilang  panjang sehingga sangatlah  berbeda dengan tempat bekerja sebelumnya “FIF”, dimana jangka waktunya masih sebatas kontrak jadi bersifat sementara saja. Mengenai penghasilan yang berprofesi sebagai Satpam maka sudah tercukupi bagi Pak Adi Saputra, di karenakan masih sendiri belum berkelurga maka terbilang cukup bagi Pak Adi. “Jika tidak cukup maka dicukupkan “ Ucapnya sambil tersenyum.
Sebagai seorang yang berprofesi Satpam untuk keamanan Kampus, tidaklah hanya sekedar dari fisik semata akan tetapi banyak juga yang menjadi sebuah pertimbangan sehingga bisa diterima menjadi Security. Yang pastinya memiliki fisik kuat, kemampuan, pengetahuan dan juga mengerti akan tugas yang akan dilakukan mengenai masalah pendidikan juga tidak ketinggalan. Pak Adi Saputra seorang yang berprofesi sebagai security untuk keamanan juga melewati beberapa tahapan yang menjadi syarat-syarat untuk diterima.Dimana untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, seorang petugas satpam yang professional wajib memahami Tugas Pokok, Fungsi dan Peranan Satuan Pengamanan, yang disingkat dengan TUPOKSIRAN-SATPAM.Dimana pada akhirnya seorang personil satpam mampu menjalankan tugasnya dengan baik serta mampu membantu penegakan peraturan yang berlaku.Sebagaimana sesuai definisinya Tugas Pokok satpam adalah menyelenggarakan keamanan dan ketertiban di lingkungan atau tempat kerjanya yang meliputi aspek pengamanan fisik, personel, informasi dan pengamanan teknis lainnya.Fungsi satpam adalah melindungi dan mengayomi lingkungan atau tempat kerjanya dari setiap gangguan keamanan, serta menegakkan peraturan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan kerjanya.
Menurut Pak Adi Saputra, “bahwa dalam pekerjaannya sebagai satpam bukanlah hal yang mudah, disamping untuk keamanan juga banyak tugas lain yang menyampingkannya” Ujarnya. Pak Adi Saputra, sebagai satpam di Kampus yang harus mengatur parkiran baik dari sisi tatanan kendaraan hingga posisi disetiap tempat parkiran agar tertata dengan sebaik dan layaknya sebuah tempat parkiran, ditambah dengan parkiran di sekitar dalam Kampus yang pastinya harus diatur dengan sebaik-baik mungkin dikarenakan jumlah kendaraan yang tidak sedikit. Dalam menjalankan tuganya sebagai satpam, Pak Adi Saputra sudah tahu betul bahwa “profesisebagai Satpam juga mempunyai Kode Etik yang menjadi pegangan dalam menjalankan tugas sebagai seorang satpam” Ujarnya.
Profesi Pak Adi Saputra sebagai Satpam khusus untuk Keamanan Kampus, sudah menjadi tugasnya untuk menjalankan dengan berdasarkan prosedur yang berlaku dan sudah ditetapkan di tempat bekerja. Bahwa ada yang menjadi  tekanan tersendiri bagi seorang Satpam. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah Janji dan Prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh seorang Satpam. Banyak hal yang didapatkan oleh Pak Adi selama bertugas di Kampus IAIN Tulungagung, dari segi kenyamanan yang dirasakan Pak Adi selama bekerja di Kampus  adalah Kenyamanan dari segi Fasilitas yang didapatkan selama bekerja, yang memang sangatlah membantu dari tempat penjagaan, fasilitas ruangan, dan alat-alat yang disediakan oleh pihak Kampus dimana danagatlah membantu para Satpam. Namanya juga dalam sebuah pekerjaan pastilah tidak hanya sekedar Kenyamanan yang dirasakan akan tetapi masih ada ketidak nyamana yang juga dirasakan oleh Pak Adi selama bekerja.Suka dan duka dialami olehnya, mulai dari orang-orang yang melqanggar peraturan, terkadang dapat omongan yang tidak sepantasnya diucapkan dari orang yang ditegurnya.Tak jarang juga Pak Adi menemui orang yang melanggar peraturan namun malah membantah jika ditegur, “saya pernah menemui orang jelas-jelas dia melanggar peraturan dalam memarkir kendaraan karena tidak pada tempatnya justru malah membantah” Ujarnya. Berbagai karakter telah diemkan oleh Pak Adi dalam menjalankan tugasnya, suka suka dalam menjalankan tugas dinikmati dan sebagai pengalaman hidup karena dengan itu bis mengetahui dan mengenal jenis-jenis pribadi masing-masing, dan pasti itulah yang sudah menjadi tanggungan dimana dalam menjalankan Profesi sebagai satpam tidaklah mudah bahkan memang membutuhkan kesabaran dalam menghadapi Mahasiswa yang memiliki berbagai macam karakter yang tidak hanya satu Mahasiswa saja yang sering melanggar peraturan yang ada,karena bisa dilihat dari jumlah Mahasiswa di IAIN Tulungagung sendiri tidaklah sedikit  dan ditambah lagi dengan Wilayah Kampus yang tidak kecil sehingga memerlukan strategi khusus untuk mengatur dan menjaga keamanan  khususnya kendaraan di lahan parkiran Kampus yang hampir memenuhi tiap sudut-sudut disekitaran Kampus IAIN Tulungagung.Dengan pekerjaan yang jam kerjanya secara bergantian dikarenakan Kampus yang tidak bisa ditinggalkan oleh penjagaan dari pihak Satpam sehingga adanya pergantian Satpam dalam menjaga Keamanan di Kampus. Dilakukan penjagaan secara bergantian karena jumlah Satpam yang terbilang tidak sedikit, dimana tiap Satpam melakukan penjagaan tiap harinya dengan waktu 8 Jam pada saat penugasannya di Kampus. Perasaan capek pastilah dirasakan oleh Pak Adi sendiri, yang mana harus bertugas dengan cuaca panas apabila sedang melakukan penugasan di area parkiran. Sesekali penugasan yang tidak merasakan cuaca panas yaitu pada saat penugasan di Pos Satpam sendiri yang terletak di depan Kampus Utama dan di depan Kampus Pasca Sarjana.
Kelelahan yang begitu dirasakan Pak Adi yaitu pada saat bertugas  di Kawasan Kampus sepenuhnya menjaga Keamanan Parkiran yang memang memerlukan fisik untuk ketahanan dalam melaksanakan tugas. Banyak yang menjadi kesulitan tersendiri “mungkin jika hanya mengatur parkiran tidaklah begitu terlalu kesulitan akan tetapi Mahasiswa yang biasanya tidak mau mendengar apa yang kita katakana sebagi Satpam Keamanan, bahkan tidak sedikit dari Mahasiswa yang malah melanggar peraturan parkiran berulang-ulang dengan Mahasiswa yang sama dan menguji kesabaran kita sebagai Satpam” Ujarnya.
Dengan adanya kejadian beberapa waktu di Kampus IAIN Tulungagung, adanya kehilangan motor yang langsung bersamaan dan tidak diketahui betul siapa yang melakukan hal tersebut. Dan pastilah sangat menjadi penekanan bagi Satpam yang memiliki tugas menjaga keamanan. Kejadian kehilangan motor tersebut memberi pekerjaan tambahan bagi Satpam, dikarenakan dari pihak atasan sendiri memberikan himbauan atau arahan lebih ketat lagi mengenai kendaraan motor yang hilang secara bersamaan. Haltersebut juga begitu di rasakan Pak Adi Saputra, “dengan adanya kejadian tersebut membuat pekerjaan kami menjadi ada penegasan lebih untuk sistem penjagaan Parkiran, diamana Mahasiswa harus antri pada saat pulang dari Kampus karena diadakannya pemeriksaan.Mahasiswa pada saat ingin keluar Kampus diharapkan untuk menunjukkan “STNK”, dan tentulah membuat Satpam menjadi tertambah pekerjaannya karena harus memeriksa satu-persatu dari Mahasiswa yang berkendaraan”. Ujar Pak Adi Saputra.
Selain melakukan keamanan didalam Kampus sebagai Satpam yang menjaga keamanan kendaraan Mahasiswa maupun Dosen. Pak Adi Saputra juga bertugas di Lalu lintas penyebrangan di depan Kampus. Pada saat dinas di Lalu lintas, Pak Adi Saputra memakai kemeja putih dengan dibalut rompi yang berwarna hijau yang menjadi ciri khas tersendiri dari petugas Lalu lintas di depan Kampus. Selama bertugas untuk mengatur Lalu lintas ada waktunya sendiri, pada saat Mahasiswa menyebrang dan pada saat waktu keluar dari Kampus yang ingin menyebrang jalan dan Mahasiswa maupun Dosen yang menyebrang jalan pada saat ingin memasuki Kampus. Sebagai seorang yang berprofesi Satpam yang belum lama melakukan aktivitas untuk keamanan, akan tetapi sudah bisa mengenal dan berbaur dengan para pekerja lainnya yang ada di Kampus. “Karena memang kenyamanan sebagai Satpam di Kampus IAIN Tulungagung yaitu Kesejahteraannya dalam pekerja antara pegawai kesejahteraannya baik, menjadi penghapus suka duka dalam melaksanakan Profesi sebagai Satpam” Ujar Pak Adi Saputra.Dalam melakukan pekerjaan pastilah tidak semudah dengan apa yang dibayangkan sebelumnya karena namanya juga bekerja pastilah ada rintangan atau sesuatu hal yang bisa membuat down. Tapi kembali lagi dimana kita bekerja karena apa dan ingin apa. Begitulah yang juga menjadi sesuatu yang mendorong Pak Adi untuk melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik mungkin dan pastilah tidak lepas dari Kode etik sebagai seorang Satpam yang harus mengikuti peraturan yang ada, dan mengingat diri siapa dan dimana dan pada siapa bekerja. Menjadi Satpam bukan hanya dengan melaksanakan pekerjaan yang semestinya tapi ada beban yang memang dimiliki dan pastinya tidak pernah lepas dari itu.
Beketja di perguruan islam negeri sangat dirasakan berbeda betul dengan pekerjaan yang lain, hal ini dirasakan oleh Pak Adi Saputra selama bekerja di IAIN. “karena suasana yang memang nuansa Islam dan mau tidak mau pasti kita akan ikut juga dalam keadaan seperti itu, dengan keagamaan yang dimiliki Kampus karena dari basis perguruannya adalah perguruan Islam. Pemandangan islami pastilah sudah Nampak dan sering ditemui”.Ujarnya. Menjadi sangat indah dalam bekerja dan menemui orang-orang yang juga berjiwa pekerja yang kuat dan tidak memandang status, akan tetapi karena dalam bekerja siapapun orangnya pasti ada titik jenuh yang ada pada dirinya. Bekerja dilingkungan Mahasiswa yaitu lingkungan Akademik, pastilah dari segi omongan gaya bahasa dan tatanan ucapan pastilah sangat berbeda dengan tempat yang umum. “Dalam omongan yang di sekitar  adalah akademik maka saya pun ikut akademik, itu saja terdengar dan itu sedikit ilmu yang bermanfaat untukku”. Ujarnya. Jadi pekerjaan bukanlah hal yang membebani jika dilakukan dengan ikhlas dan tidak mengejar pangkat tapi dalam suatu pekerjaan haruslah menemukan prinsip yang memang ada pada diri Pak Adi Saputra yang bekerja sebagai Satpam dikarenakan juga belum berkelurga dan pastilah belum banyak yang menjadi tanggungan yang dimana pekerjaan masih dinikmati dengan hasil yang msih belum terbagi dengan kebutuhan yang lainnya di luar kebutuhan hidup sehari-hari. “Masih bisa merasakan penuh penghasilan sendiri yang belum ada tanggungan kecuali untuk Orangtua sendiri”.Ujarnya.
Sebagai seorang yang berprofesi sebagai Satpam Kampus yang memang memiliki banyak pekerja dari keahlian dan kriteria masing-masing, sehingga membuat Pak Adi Saputra merasakan adanya hiburan tersendiri saat berkumpul dengan pekerja ataupun pada saat dinas bersamaan.
Harapan Pak Adi Saputra sendiri, khususnya untuk Mahasiswa bahwa memang  berprofesi sebagai seorang Satpam bukanlah hal yang mudah. Memang kami tahu betul bahwa itu adalah sudah sebagai tugas Satpam akan tetapi jika Mahasiswa juga seenaknya saja tanpa mengikuti dan mematuhi peraturan yang ada maka itu juga menjadi tugas Satpam yang paling sulit karena sebagai Satpam hanya untuk Mengatur dan selebihnya diharapkan Mahasiswa juga ada partisipasi akan hal itu, kesadaran tersendiri karena semuanya sama-sama membutuhkan Satpam sebagai yang mengatur Keamanan Parkiran juga dengan mudah melaksankan tugas dengan baik jika para Mahasiswa mudah dan sadar untuk mematuhi apa yang sudah menjadi tanggungan dari kesadaran diri sendiri. Amak itu sangatlah membantu para Satpam tentunya.
“peraturan-peraturan mengenai tugas sebagai Satpam tentu harus kami taati, namun namun kami harus tahu dan mengerti tentang peraturan tersebut”. Ujarnya.